Kamis, 19 Januari 2012

maksim kesopanan dan kesantunan


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan Kesopanan dan Kesantunan
            Dalam Bahasa Indonesia, sopan dan santun seringkali disandingkan dalam penggunaannya. Dan dalam penerapannya sopan dan santun ini acapkali disamakan artinya sebagai perilaku yang sesuai dengan adat dimasyarakat. namun sebenarnya sopan dan santun yang dalam konteks ini disebut sebagai kesopanan dan kesantunan itu berbeda. Kesantunan merupakan bagian dari kesopanan, jadi sesuatu yang sopan sudah tentu santun tapi sesuatu yang santun belum tentu sopan. Maka dapat juga diartikan bahwa penuturan yang santun mematuhi maksim kesopanan. Disebut maksim kesopanan karena kesantunan berbahasa sudah termasuk didalamnya. Maka pada pembahasan selanjutnya maksim kesopanan akan diperkecil menjadi teori kesantunan, yang kemudian kesopanan akan dibahas pada akhir pembahasan.
2.2 Teori-teori Kesantunan
            2.2.1 Robin Lakoff (1973)
                        Lakoff dalam Abdul Chaer (2010) mengatakan tiga kaidah kesantunan, yaitu
1.      Formalitas (jangan memaksa atau angkuh)
2.      Ketidaktegasaan (buatlah agar lawan tutur dapat menentukan pilihan)
3.      Persamaan atau kesekawanan (bertindak seolah-olah anada dan lawan tutur anda menjadi sama)
2.2.2 Brown dan Levinson (1978)
            Dalam Abdul Chaer (2010), Brown dan Levinson mengatakan teori kesantunan berbahasa itu berkisar atas nosi muka (face). Muka tersebut dibagi dua, yaitu muka negatif dan muka positif.
            Muka negatif itu mengacu pada citra diri setiap orang yang rasional yang ingin dihargai dan membiarkannya bebas dari keharusan melakukan sesuatu. Muka positif ialah mengacu pada setiap diri seseorang yang rasional, yang berkeinginan agar apa yang dilakukan atau dimilikinya diakui orang lain sebagai sesuatu yang baik.
2.2.3 Geoffrey Leech (1983)
Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.
Maksim-maksim tersebut menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. Maksim-maksim ini dimasukkan ke dalam kategori prinsip kesopanan.
Leech menjelaskan teori kesantunan dalam enam maksim, yaitu
a.        Maksim Kebijaksanaan
Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin, dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27).
Gagasan dasar maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Apabila di dalam bertutur orang berpegang teguh pada maksim kebijaksanaan, ia akan dapat menghindarkan sikap dengaki, iri hati, dan sikap-sikap lain yang kurang santun terhadap mitra tutur. Rasa sakit hati dalam sebuah pertuturan juga dapat diminimalisir dengan maksim ini.
b.      Maksim Penerimaan
Kurangi keuntungan diri sendiri dan tambahi pengorbanan diri sendiri (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27).
Jika setiap orang melaksanakan inti pokok maksim kedermawanan dalam ucapan dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, maka kedengakian, iri hati, sakit hati antara sesama dapat terhindar. Dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain.
c.       Maksim Kemurahan
Maksim ini menuntut setiap penutur untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa merendahkan orang lain.
d.      Maksim Kesederhanaan atau Kerendahan Hati
Kurangi pujian pada diri sendiri, tambahi cacian pada diri sendiri (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27).
Dalam maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri. Dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia, keserderhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai paremeter penilaian kesantunan seseorang.
e.        Maksim Kecocokan
Kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27)..
Maksim permufakatan seringkali disebut dengan maksim kecocokan (Wijana, 1996: 59). Di dalam maksim ini, ditekankan agar para pererta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap santun.
f.       Maksim Simpatisan
Kurangi antipasti antara diri sendiri dengan orang lain.
Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27).
Di dalam maksim kesimpatisan, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipasti terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun. Masyarakat tutur Indonesia, sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatisan terhadap orang lain ini di dalam komunikasi kesehariaanya. Orang yang bersikap antipasi terhadap orang lain, apalagi sampai bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat.
2.2.4 Tarigan (1986)
Tarigan dalam F. X. Nadar (2009) menjelaskan sama dengan Geoffrey Leech, hanya saja pada maksim kemurahan diganti menjadi maksim penghargaan. Di dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa orang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para perserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. Perserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Dikatakan demikian karena tindakan mengejek merupakan tidakan tidak menghargai orang lain. Karena merupakan perbuatan tidak baik, perbuatan itu harus dihindari dalam pergaulan sesungguhnya.
Yang pada pengertiannya kemurahan dan penghargaan dikatakan saling menyerupai.
2.3 Skala Kesantunan
2.3.1      Skala Kesantunan menurut Leech (1983:123-126) adalah sebagai berikut:
a.      Skala kerugian dan keuntungan (cost-benefit scale) menunjuk kepada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan. Semakin tuturan tersebut merugikan diri penutur, akan semakin dianggap santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur akan semakin dianggap tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu merugikan diri, si mitra tutur akan dianggap semakin santunlah tuturan itu.
b.      Skala pilihan (Optionality Scale) menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan si penutur kepada si mitra tutur. Semakin pentuturanitu memungkinkan penutur atau mitra tutur mementukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya apabila pertuturan itu sama sekali tidak memberikan kemungkinan memilih bagi si penutur dan si mitra tutur, tuturan tersebut akan dianggap tidak santun.
c.       Skala ketidak langsungan (Indirectness Scale) menunjuk kepada peringkat langsung atau tudak langsugnya maksud sebuah tuturan. Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tidak langsung, maksud sebuah tuturan, akan dianggap semakin sanutunlah tuturan itu.
d.      Skala keotoritasan (Authority Scale) menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan cenderung menjadi semakin santun. Sebakinya, semakin dekat jarak peringkat status sosial diantara keduanya, akan cenderung berkuranglah peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur itu.
e.       Skala jarak sosial (Social Distance Scale) menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam bsebuah pertuturan. Ada kecenderungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial dia antara keduanya, akan menjadi semakin kurang santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin santunlah tuturan yang digunakan itu.

2.3.2      Skala Kesantunan  menurut Brown dan Levinson (1987) sebagai berikut:
a.       Skala peringkat jarak sosial antara penutur dan mitra tutur (social distance between speaker and hearer) banyak ditentukan oleh parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokltural. Berkenaan dengan perbedaan umur antara penutur dan mitra tutur,  lazimnya didapatkan bahwa semakin tua umur seseorang, peringkat kesantunan dalam bertutur akan semakin tinggi. Sebaliknya, orang yang masih berusia muda cenderung memiliki peringkat yang rendah di dalam kegiatan bertutur. Orang yang berjenis kelamin wanita, cenderung memiliki kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berjenis kelamin pria. Hal demikian disebabkan oleh kenyataan bahwa kaum wanita cenderung berkenaan dengan sesuatu yang bernili estetika dalam keseharian hidupnya. Sebaliknya, pria cenderung jauh dari hal-hal itu karena, biasanya ia banyak berkenaan dengan kerja dan pemakaian logika dalam kegiatan keseharian hidupnya. Latar belakang sosiokltural seseorang memiliki peran sangat besar dalam menentukan peringkat kesantunan bertutur yang dimilikinya. Orang yang memiliki jabatan tertentu didalam masyarakat, cenderung memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan orang seperti petani, pedagang, buruh bangunan, pembantu rumah tangga dsb. Demikian pula orang-orang kota cenderung memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa.
b.      Skala peringkat status sosial antara penutur dan mitra tutur atau sering kali disebut dengan peringkat kekuasaan (power writing) didasarkan pada kedudukan asimetrik antara penutur dan mitra tutur. Contoh: di dalam ruang periksa sebuah rumah sakit, seorang dokter memiliki peringkat kesantunan lebih tinggi dibandingkan dengan seorang pasien. Demikian pula di dalam kelas seorang dosen memiliki peringkat kekuasaan lebih tinggi dibandingkan dengan seorang mahasiswa.
c.       Skala peringkat tindak tutur (rank rating), didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur yang lainnya. Contoh: dalam situasi yang sangat khusus, bertemu di rumah seorang wanita dengan melewati batas waktu bertemu yang wajar akan dikatakan sebagai tidak tahu sopan santun dan bahkan melanggar norma kesopanan yang berlaku pada masysrakat tutur itu. Namun demikian, hal yang sama akan dianggap sanagt wajar dalam situasi yang berbeda. Misalnya, pada saat terjadi kerusuhan atau kebakaran orang berada di rumah orang lain atau rumah tetangganya bahkan sampai pada waktu yang tidak ditentukan.
2.3.3      Skala Kesantunan menurut Robin Lakoff (1973) adalah sebagai berikut:
a.       Skala formalis  (formality scale) yaitu skala yang dinyatakan agar para peserta tutur dapat merasa nyaman dalam kegiatan bertutur. Tuturan yang digunakan tudak boleh bernada memaksa dan tidak boleh berkesan angkuh. Didalam kegiatan bertutur, masing-masing peserta tutur harus dapat menjaga keformalitasan dan menjaga jarak yang sewajarnya antara yang satu dengan yang lainnya.
b.      Skala ketidaktegasan (hesitancy scale) yaitu skala yang menunjukkan bahwa penutur dan mitra tutur dapat saling merasa nyaman dalam bertutur. Pilihan-pilihan dalam bertutur harus diberikan oleh kedua beah pihak. Orang tidak diperbolehkan bersikap terlalu tegang dan terlalu kaku didklam kegiatan bertutur karena akan dianggap tidak santun.
c.       Peringkat kesekawanan atau atau kesamaan (equality scale) menunjukkan agar bersifat santun. Orang harus bersikap ramah dan selalu mempertahankan persahabatan antara pihak yang satu dengan pihak yang alin. Agar tercapai maksud demikian, penutur haruslah menganggap mitra tutur sebagai sahabat. Dengan menganggap pihak yang satu sebagai sahabat bagi pihak lainnya, rasa kesekawanan dan kesejajaran sebagai salah satu prasyarat kesantunan akan dapat tercapai.
2.4 Penyebab Ketidaksantunan
            Ketidaksantunan terjadi ketika penuturnya tidak mampu mengendalikan apa yang dituturkannya sehingga bahasa yang ia gunakan menjadi tidak santun. Pranowo (2009) dalam Abdul Chaer (2010) menjelaskan ada lima penyebab ketidaksantunan, yaitu :
            a. Kritik secara langsung dengan kata-kata kasar
                        kritik langsung dengan kata-kata kasar menyebabkan sebuah penuturan jauh dari skala peringkat kesantunan. Seperti pada kata “payah”  sebaiknya diganti dengan “belum bekerja maksimal.
            b. Dorongan rasa emosi penutur
                                    Pada sebuah penuturan hendaknya penutur menjauhkan dari rasa emosi sehingga berkesan bahwa penutur marah kepada lawan tuturnya.
            c. Protektif terhadap pendapat
                                    Protektif terhadap pendapat sendiri dilakukan agar tuturan lawan tutur tidak dipercaya oleh pihak lain.
            d. Sengaja menuduh lawan tutur
                        Tuduhan yang dilayangkan kepada lawan tutur hanya berdasarkan kecurigaanya belaka tanpa disertai bukti yang nyata, maka akan membut tuturan menadi tidak santun.
            e. Sengaja memojokan mitra tutur
                        Penutur biasanya melakukan ini agar lawan tutur menjadi tidak berdaya atas apa yang dikatakan  penutur.
Maka penyebab dari kelima hal diatas adalah penutur memang tidak tahu kaidah kesantunan berbahasa, penutur sulit meninggalkan kebiasaan lama akibat hasil budaya dan sifat bawaan atau karakter penutur yang memang tidak santun.
2.5 Kesopanan
            Pada awal pembahasan telah dikemukakan mengapa pada pembahasan sebelumnya digunakan teori kesantunan bukan kesopanan. Pada dasarnya prinsip dalam pragmatik ini tetap dinamakan maksim kesopanan, karena jika digunakan maksim kesantunan, maksim kesantunan tidak bisa menjawab semua kaidah-kaidah dalam bertutur. Maka maksim kesopanan dirasa cukup melingkupi kata kesantunan dan kesopanan itu sendiri. Sederhananya adalah tuturan yang benar adalah yang memaatuhi maksim kerjasama, tuturan yang santun adalah tuturan yang memenuhi maksim kesopanan yang telah dijelaskan sebelumnya.
            Abdul Chaer (2010) menjelaskan tuturan yang benar berkaitan dengan masalah isi penuturan, tuturan yang santun berkaitan dengan bahasa yang digunakan dan tuturan yang sopan berkaitan dengan :
a.       Topik tuturan, topik tuturan bersumber darimana saja sesuai masalah dimasyarakat. Hanya saja ada topic yang dianggap tidak sopan dalam penuturan. Misalnya mengenai usia, yang tidak boleh ditanyakan pada seorang wanita (yang bukan anak-anak dan belum nenek-nenek), meskipun dengan bahasa yang santun
b.      Konteks situasi ini berkenaan dengan masalah tempat, waktu dan suasana psikologis. Contohnya seperti berbicara dengan suara keras di Rumah Sakit.
c.       Jarak hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur. Hal ini berkaitan dengan seberapa dekat hubungan penutur dan lawan tuturnya. Misalnya seperti tidak sopan jika menanyakan masalah pribadi lawan tutur pada saat awal perkenalan.


 Tinggalkan komentarmu... mari berkawan /(^______^)\

Jumat, 13 Januari 2012

puisi jante arkidam


JANTE ARKIDAM
Karya Ajib Rosidi

Sepasang mata biji saga                                    (1)
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun`        (2)
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian, di peralatan                                                 (3)
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba                                        (4)
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian

Malam berudara lembut                                    (5)
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

‘mantri polisi lihat ke mari!                               (6)
Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!’

Berpandangan wedana dan mantripolisi       (7)
Jante, Jante; Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari!’

‘Aku, akulah Jante Arkidam                             (8)
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’

Diam ketakutan seluruh kalangan                  (9)
Memandang kepada Jante bermata kembang
Sepatu

‘mengapa kalian memandang begitu?           (10)
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali       (11)
Penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya sloki kesembilanlikur   
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya                       (12)
Mantripolisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik                               (13)
‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan   (14)
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama                             (15)
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama                          (16)
Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali

‘Siapa lelaki menuntut bela?                            (17)
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung di lunas malam                    (18)
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali    (19)
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya                   (20)        
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruastulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukkannya?       (21)
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi                                     (22)
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi                               (23)
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang siapa yang jantan                                                (24)
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani                                   (25)
Hingga tak keluar menemui kami?’

‘Tubuh kalian batang pisang                            (26)
Tajam tanganku lelancip pedang’

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap (27)
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata kebelakang                                (28)
Jante Arkidam lolos dari kepungan 
Dan masuk ke kebun tebu

‘Kejar jahanam yang lari!’                                                (29)

Jante dikepung lelaki satu kampong                               (30)
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’                                  (31)

Digelengkannya kepala yang angkuh             (32)
Sekejap Jante telah bersanggul

‘Alangkah cantik perempuan yang lewat      (33)
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante tak kusua barang seorang                     (34)
Masih samar, di lorong dalam’

‘Alangkah Eneng bergegas                                (35)
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku                                    (36)
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka                      (37)
Kembali dijelmakannya dirinya

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu             (38)
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpaling lelaki ke arah Jante                           (39)
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu                                         (40)
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.



Puisi ini mengisahkan sosok Jante Arkidam yang merupakan buronan kelas kakap. Ia sangat kuat sehingga ditakuti oleh banyak orang dan licin untuk ditangkap. Dalam suatu malam ia beraksi membobol pegadaian. Setelah itu ia berpesta, menari dengan para ronggeng, menghabiskan uang dengan berjudi dan mabuk-mabukkan. Melihat kejadian itu, mantripolisi dan wedana hanya keheranan, saling berpandangan dan berkata, “Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi. Dan kini ia menari!” . mendengar hal tersebut, Jante malah menantang dengan beringasnya
“Aku, akulah Jante Arkidam.
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang.
 Tajam tanganku lelancip gobang.
Telah kulipat rujibesi.”
 Semua yang mendengar itu hanya ketakutan dan tidak bisa berbuat banyak. Sehingga pesta pun tetap berlanjut. Karena terlalu banyak menengggak minuman, ia pun tak sadarkan diri. Dengan keadaan demikian, mantripolisi memanfaatkan kondisi ini untuk menangkap Jante. Dibawanya Jante ke Nusa Kambangan.
Pada waktu tersadar ia sudah berada di Nusa Kambangan, ia marah. Ia menyadari tangannya sudah dirantai. Ia menganggap mantripolisi itu pengecut karena menangkapnya dalam keadaan tak sadarkan diri. Lantas ia  merusak jeruji besi dan membunuh mantripolisi tersebut. Mantripolisi itu pun tenggelam didasar kali.  
Selain itu, Jante berhasil memikat hati janda mantripolisi itu. Sang janda mantripolisi bahkan rela menyerahkan kehormatan pada orang yang telah membunuh suaminya sendiri.  Walaupun demikian, janda mantripolisi itu tetap berkhianat, ia melaporkan Jante ke polisi. Jante baru tersadar setelang bunyi dentangan ke lima dari tangsi polisi tersebut.
Polisi diluar sudah mengepung walau tak ada satupun yang berani masuk ke dalam.  Jante yang terkenal licin ini walau sudah dikepung polisi dan lelaki satu kampung tetap saja ia berhasil meloloskan diri. Berlari menuju kebun tebu. Dengan sekejap ia berubah menjadi wanita bersanggul, cantik.
  Alangkah cantik perempuan yang lewat, Adakah ketemu Jante di dalam kebun?” ujar seorang laki-laki
“Jante?” dia buka suara, “Tak kusua barang seorang. Masih samar, di lorong dalam.” Jawab Jante dengan suara perempuan.
“Alangkah Eneng bergegas.
Adakah yang diburu?”
“Jangan hadang jalanku.
Pasar kan segera usai!” 
Sesudah jauh berjalan, Jante merubah dirinya lagi menjadi laki-laki lalu berteriak ke arah kerumunan yang tadi mengejarnya sambil mengejek, “Hei lelaki sekampung bermata dadu. Apa kerja kalian mengantuk di situ?”. Jante pun kabur lagi menuju persembunyiannya lagi. 


bermanfaatkah untukmu???
tinggalkan komentarmu ya... trimakasih :) 
mari berkawan.... 

feminisme calon arang

ABSTRAK
Sosok pramoedya yang merupakan novelis terbesar di Indonesia. Beliau banyak mengangkat cerita-cerita jaman dahulu disertai pemikirannya yang kritis. Pram mengkritisi budaya patriarki yang masih kuat dikalangan masyarakat yang menimbulkan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Parm juga menyoroti bahwa perempuan dianggap sebagai nomor dua dibawah laki-laki.
Pada novel Calon Arang ini, Pram menampilkan banyak tokoh diantaranya Calon Arang, Ratna    Manggali, Empu Baradah, Empu Bahula, dan Baginda Erlangga.
 Pada novel Calon Arang, Pram menampilkan sosok Calon Arang yang merupakan dukun teluh yang murka karena anaknya tidak ada yang mau meminang dan bagaimana gambaran kesedihan anaknya karena tidak ada yang mau meminang. Bagaimana akhir patriarki pada akhir cerita Calon Arang yang ditandai dengan kematian Calon Arang.


PENDAHULUAN
Pramoedya merupakan salah satu novelis terkenal. Beliau lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925. Beliau semasa hidupnya aktif menulis sastra dan menghasilkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan lebih dari 41 bahasa asing. Beliau banyak mengkritisi seuatu dalam karyanya. Salah satunya feminisme. Sebagai contoh feminism dalam Calon Arang.
Dalam novel ini, pram menceritakan kehidupan seorang perempuan tua yang memiliki hati yang jahat, penuh kedengkian, yang hobinya meneluh orang lain dengan kekuatan sihirnya. Semua musuhnya tidak diberi ampun dan dibunuh dengan cara yang keji dengan mantra hitamnya, bahkan hampir seluruh masyarakat yang berada di wilayah kekuasaan Raja Airlangga juga menerima akibat dari ilmu teluh itu. Pramoedya sendiri menuturkan bahwa cerita ini dikarang pada tahun Saka 1462, di mana cerita ini memperlihatkan bahwa pengaruh kepercayaan kuno tidak terlampau terikat dengan kepercayaan Hindu-Jawa pada masanya

“Tulisan lama naskan ini ada dua macam, yaitu yang berasal dari Jawa dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh R. Ng. Purbatjaraka dalam Bijidr. K. I deel 82 hlm 110-180, kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1931 (seri buku no. 942). Yang lain cerita Calon Aran yang berasal dari Bali. Antara kedua cerita ini terdapat perbedaan sediri, tetapi tak perlu benar dipanjang-lebarkan.” [Pramoedya Ananta Toer, 1954]

Nama-nama tokoh yang ada dalam cerita ini merupakan tokoh-tokoh sejarah yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah kerajaan Hindu di Jawa. Seperti Empu Baradah, yang merupakan seorang pujangga yang hidup pada masa Raja Airlangga berkuasa di Jawa Timur dari tahun 1019 hingga 1042 Masehi. Pada latar tempatpun dikatakan bahwa cerita berlalatar pada Kerajaan Daha, saat ini disebut Kerajaan Kediri yang ada di Jawa Timur.

FEMISNISME
Feminisme lahir dari masyarakat yang percaya pada bahwa kekuatan laki-laki selalu diatas perempuan, maka perempuan tidak punya hak atas hidupnya. Masyrakat ini menganggap perempuan hanya bertugas mematuhi apa yang menjadi peraturan laki-laki. Akibat pandangan dari masyarakat ini maaka timbulah pergolakan di dalam diri perempuan yang menginginkan kebebasan atas hidup mereka, mereka ingin menyamakan derajatnya dengan laki-laki dan juga menjadi peran penting dalam kehidupan. Banyak pengungkapan yang dilakukan perempuan untuk mengatakan bahwa mereka tidak leih rendah dari laki-laki. Pengungkapan ini dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan sastra.
Sastra yang merupakan wadah ekspresi jiwa yang dapat mengungakap perasaan pengarangnya lewat rangkaian kata-kata yang indah. Sastra dianggap sesuai untuk mengungkap apa yang mereka(perempuan) rasakan sebagai yang dinomor duakan oleh sistem patriaki, karena sastra juga pengungkapan rasa lewat bahasa maka mereka yakin apa yang mereka tulis, bisa tersampaikan dan diterima semua orang sehingga membuat yang sadar bahwa sistem patriaki tidaklah benar. Dari latar belakang inilah penolakan terhadap patriaki tersampaikan melalui sastra dan munculah istilah feminisme sebagai suatu pembelaan terhadap hak-hak perempuan.
Banyak novel yang mengangkat feminisme sebagai dominan dalam ceritanya, biasanya novel seperti ini akan menceritakan bagaimana perempuan yang dianggap lemah ternyata kekuatannya melebihi laki-laki, kekuatan ini bisa tercermin dari perjuangannya untuk menyamakan derajat dengan laki-laki. Cerita yang berbeda dikisahkan dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Anantatoer, perbedaan itu terlihat pada kekutan yang ada pada tokoh utama Calon Arang. Tokoh utama ini bukan seperti pada tokoh utama lainnya yang kekuatannya dari memperjuangkan hak perempuan tetapi dari penggambaran tokoh yang mempunyai kekuatan dalam hal meneluh atau menyakiti orang banyak dan tidak terkalahkan bahkan oleh laki-laki.  



AKHIR PATRIAKI PADA CALON ARANG
Mengapa novel ini bisa dikatakan menganut aliran feminisme ? karena cerita pada novel ini berpusat pada dua tokoh perempuan didalamnya, yakni Calon arang (sebagai ibu) dan Ratna manggali (sebagai anak). Dua perempuan dalam cerita ini mempunya karakter yang berbeda. Sang ibu Calon Arang digambarkan sebagai tokoh sakti mandraguna dalam ilmu hitam yang tidak tekalahkan, sedangkan sang anak Ratna Manggali adalah sosok perempuan yang cantik, lemah lembut, walau ia tidak suka dengan kejahatan ibunya tapi dia tidak berdaya atas kekuatan ibunya.
Selain mengedepankan dua sosok perempuan sebagai pemeran utama, cerita yang diangkat dari cerita rakyat Jawa-Bali tersebut juga diyakini berasal dari dendam perempuan terhadap laki-laki. Calan Arang semakin membenci laki-laki saat tidak ada yang menikahi Ratna Manggali, putriny karena takut pada calon mertuanya itu. Maka dia murka dan menebar teluh, mengacaukan kedamaian Negara Daha.
Feminisme sebagai yang dominan dalam cerita inilah adalah saat Ratna Manggali harus memilih antara ibu dan suaminya. Hal ini dikarenakan suami Ratna Manggali, Empu Bahula menyuruhnya mengambil kitab ibunya untuk mengalahkan Calon Arang. Ratna Manggali tidak berdaya akan permintaan suaminya, juga tidak dapat berbuat apa-apa walau mengetahui bahwa ibunya akan dibunuh, pada saat inilah terlihat bahwa perempuan tidak bisa menentang perintah suaminya dan mengorbankan ibunya walau kita tahu semua itu karena kejahatan ibunya sendiri.
Walaupun pada awal cerita Calon Arang adalah perempuan yang sangat sakti dan berkuasa tapi npada akhirnya juga dia adalah seorang perempuan yang tidak lebih kuat dari laki-laki. Hal ini tercermin dari kekalahan Calon Arang karena siasat dari Empu Baradah, guru dari Empu Bahula, yang mengutus muridnya untuk menikahi Ratna Manggali dan mencari tahu kelemahan Calon Arang. Dari pemaparan inilah dapat dikatakan bahwa sehebat-hebatnya perempuan, dia tidak lebih hebat dari laki-laki.



KESIMPULAN
Feminisme yang digambarkan sebagai perlawanan kaum wanita terhadap pembelaan hak-nya, dikisahkan pada awal cerita yang disingung berasal dari dendam seorang wanita terhadap kaum laki-laki atau sistem patriaki. Calon arang menjadi  seorang wanita yang keji karena dia merupakan korban patriaki yang selalu menomor duakan wanita. Calon arang ini juga menyiratkan bahwa wanita itu tidak bisa mengendalikan emosinya, sedangkan tokoh laki-laki yang diwakili oleh tokoh Empu Baradah digambarkan sebagai tokoh yang bijaksana dan cerdas. Hal ini seperti ingin memperlihatkan bahwa wanita tidak mampu dapat diserahi tanggung jawab karena wanita tidak mampu mengendalikan emosinya. Maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bagaimanapun wanita melakukan perlawanan tetapi sistem patriaki tetap lebih mendominasi.



Selasa, 25 Oktober 2011

Koartikulasi




Koartikulasi adalah gejala saling mempengaruhi antar satu bunyi dengan bunyi lain. Dalam gejala ini, ditinjau dari tempat artikulasi mana yang mempengaruhi. Koartikulasi ini terjadi karena sewaktu artikulasi primer memproduksi bunyi pertama berlangsung, alat-alat ucap sudah mengambil ancang-ancang untuk membuat atau memproduksi bunyi berikutnya. Akibatnya bunyi pertama yang dihasilkan sedikit berubah mengikuti ciri-ciri kedua yang akan dihasilkan. Nama lain dari koartikulasi yaitu artikulasi penyerta atau artikulasi sekunder.  Peranan artikulator sangat penting untuk bekerja menghasilkan bunyi tertentu (artikulator primer) dan artikulator yang menghasilkan bunyi lain (artikulator sekunder).
Terdapat beberapa gejala koartikulasi yaitu:
1.    Labilisasi
Labialisasi adalah proses pelabialan. Proses koartikulasi dimana posisi bibir membulat sehingga pada bunyi utama terdengar bunyi labial [w]. Sebagai contoh yaitu pada kata tuan terdengar bunyi [w].  Contoh lainnya pada kata uang, buang, ruang, juang, dan kualitas. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,

2.    Retrofleksi
Proses koartikulasi ini terjadi dengan posisi penarikan ujung lidah kebelakang sehingga terdengar bunyi [r]  pada artikulasi primer. Selain bunyi apikal, bunyi lain dapat diretrofleksikan. Misalnya bunyi [k] pada bunyi dorsoplatal, tetapi bunyi [k] pada <kertas> dilafalkan sebagai bunyi [kr] karena bunyi [k] itu diretrofleksikan terlebih dahulu. Jadi kata <kertas> dilafalkan menjadi [kretas]

3.    Palatalisasi
Palatalisasi adalah proses pengangkatan daun lidah kearah langit-langit keras (palatum) sewaktu artikulator primer berlangsung. Selain bunyi palatal, bunyi lain dapat di palatalisasikan. Misalnya adalah bunyi [p] adalah bunyi alpikoalveolar tak bersuara, tetapi pada kata <piatu>, bunyi [p] dipalatalisasikan sehingga terdengar sebagai bunyi [py]. maka kata <piatu>  dilafalkan menjadi <pyatu>

4.    Velarisasi
Proses koartikulasi ini terjadi ketika pangkal lidah (dorsum) naik kearah langit-langit lunak (velum) pada artikulasi primer. Selain bunyi velar, bunyi lain dapat di velarisasikan. Misalnya bunyi [m] pada kata <makhluk> direalisasikan menjadi [mx]. oleh karena itu, kata <makhluk> dilafalkan <maxkluk>.

5.    Glotalisasi
Glotalisasi adalah proses penyertaan bunyi hambat pada glotis (pada saat glotis tertutup rapat) sewaktu artikulasi primer berlangsung. Misalnya bunyi [a] dan [o] pada kata <saat>, <taat> dan <obat> dilafalkan menjadi <sa?at>, <ta?at> dan <o?bat>.

6.    Nasalisasi
Gejala ini timbul dalam bentuk pranasalisasi yang terdapat dalam beberapa bunyi bahasa jawa yang terjadi pada kontoid hambat bersuara [b,d,g]. Misalnya pada kata [mBogor].